Setelah melihat tayangan TVOne dengan latar belakang aktivitas dan kegiatan KBM di SLBN di Semarang, memunculkan perasaan yang membuncah dalam hati ini. Apalagi dengan kemunculan KHARISMA, seorang siswa SLB yang punya kelebihan khusus yaitu mampu mengingat segala sesuatu dengan cepat dan menirukannya tanpa ada kesalahan dan kekurangan sedikitpun.
Diantaranya Kharisma disuruh menirukan petikan sambutan dari Kepala SLB Bapak Ciptono :
Anak berkebutuhan khusus adalah bukan produk dari Tuhan yang gagal karena Tuhan tidak pernah gagal ....
Semua ciptaan-Nya adalah sempurna
Selasa, 08 Mei 2012
Senin, 02 Januari 2012
Pengenalan Sekolah Imaculata

Sekolah Imaculata
Sekolah, Terapi, dan Asrama Anak Berkebutuhan Khusus
Program-program kami adalah:
1. Terapi: perilaku, kemandirian, wicara, akademik, motorik / sensorik, sosialisasi
2. Sekolah:
1. Terapi: perilaku, kemandirian, wicara, akademik, motorik / sensorik, sosialisasi
2. Sekolah:
a. Kelas transisi: dengan kurikulum Nasional, persiapan bagi anak yang memungkinkan untuk ke sekolah umum
b. Kelas kejuruan: Menggali dan mengembangkan bakat anak
c. kelas kemandirian: Membimbing anak untuk bisa melakukan semua pekerjaan dalam kehiupan sehari hari
d. Home Schooling
b. Kelas kejuruan: Menggali dan mengembangkan bakat anak
c. kelas kemandirian: Membimbing anak untuk bisa melakukan semua pekerjaan dalam kehiupan sehari hari
d. Home Schooling
Pendidikan agama:
Anak beribadah sesuai dengan agam yang dianutnya
Fasilitas:
1.Semua ruang ber AC
2. Kolam renang in door
3. Peralatan fitness
2. Kolam renang in door
3. Peralatan fitness
Tenaga Pengajar dan SDM:
1. Profesional sesuai dengan bidangnya
2. Mendidik dengan dasar kasih
3. Perawat
4. Dokter
5. Psikolog
6. Mendidik dengan dasar kasih
2. Mendidik dengan dasar kasih
3. Perawat
4. Dokter
5. Psikolog
6. Mendidik dengan dasar kasih
Hubungi: Bu Ima di HP: 0818 490 902
dan alamat:Istana Anak Raja
Perumahan Taman Harapan Baru Blok V 5 no. 8,
Pejuang, Medan Satria, Bekasi Barat 17131
Jawa Barat, Indonesia
Pejuang, Medan Satria, Bekasi Barat 17131
Jawa Barat, Indonesia
Jumat, 09 Desember 2011
Terapi Tepat untuk Anak Spesial
Terapi Tepat untuk Anak Spesial
Jumat, 09 Desember 2011 13:00 WIB
Topik pendidikan untuk anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) memang masih relatif baru sehingga menjadi hangat jika diperbincangkan. Apalagi jika perbincangan melibatkan ahlinya serta orang tua yang memiliki anak-anak special.
Begitu pula yang terjadi dalam talkshow “Serba-serbi ABK” yang diadakan oleh Volunteer Education Network (VEN), 27 November lalu. Talkshow yang hangat itu menjadi sarat manfaat karena peserta tidak hanya mendengarkan kisah-kisah sukses para pakar Pendidikan Luar Biasa dalam mendidik anak-anak spesial, tapi juga bisa “curhat” dengan mereka. Bahkan sesekali rasa haru juga menyelimuti atmosfer KFC Kemang pagi itu saat beberapa orang tua membagi pengalaman mereka dalam memperjuangkan hak-hak anaknya agar dapat hidup layaknya anak-anak lainnya.
Dari penuturan beberapa ibu yang hadir, perjuangan pertama yang harus mereka hadapi cukup berat, yaitu menerima kenyataan bahwa mereka memiliki anak yang berkebutuhan khusus, seperti cerebral palsy, down syndrome, diskalkulia, atau bahkan anak-anak berbakat (gifted).
Belum lagi keterasingan yang mereka dapatkan dari sebagian keluarga dan lingkungan sekitar. Padahal, menurut Adi D Adinugroho-Horstman, pendiri komunitas VEN, penerimaan ini merupakan langkah awal yang menentukan penanganan selanjutnya. Jika orang tua sudah mampu melapangkan dadanya dengan kenyataan tersebut, mereka akan mampu memfokuskan diri untuk mengembangkan potensi lain yang dimiliki sang anak, yang mungkin tidak sempat tersorot karena perhatian orang tua lebih tercurah pada perawatan lainnya.
Setelah mampu menerima kenyataan pun mereka masih menghadapi tantangan lain, yaitu bagaimana memilih terapi dan terapis yang tepat bagi anaknya. Memang saat ini banyak metode dan teknik-teknik yang ditawarkan untuk menstimulus perkembangan anak, hingga kerap membuat para orang tua kebingungan. Namun, belum tentu terapi yang cocok untuk seorang anak cerebral palsy (CP), misalnya, akan cocok juga diterapkan pada anak penyandang CP lainnya karena setiap dari mereka memiliki karakteristik unik yang berbeda-beda.
Untuk itu, Dr. Endang Widyorini, salah seorang narasumber yang merupakan dosen psikologi di sebuah universitas swasta di Semarang, menyarankan kepada mereka untuk melakukan assessment (penilaian mengenai kekhususan yang dimiliki si anak) dengan tepat. Selain menekan biaya, diagnosis yang tepat akan memungkinkan anak mendapat terapi yang tepat sedini mungkin.
Sementara itu, Adi berpendapat bahwa ahli yang sebenarnya dalam membantu perkembangan ABK adalah orang tua sendiri. Memang mereka perlu mengikuti anjuran terapis dan psikolog, tapi orang tua juga perlu menggunakan intuisinya untuk menentukan penanganan terbaik bagi anaknya, karena merekalah yang mengamati perkembangan sang anak sedari kecil.
Terkadang ayah dan ibu juga perlu bereksplorasi mencari model yang terapi yang cocok untuk anaknya. “Tak jarang,” kata Adi,“filosofi ‘the bitter experience can be the better learning resource’ (pengalaman yang pahit justru bisa menjadi sumber pembelajaran yang lebih baik) juga berlaku.” Mungkin dalam eksplorasi tersebut mereka bisa menemui hal-hal yang tidak diinginkan, tapi dari situ mereka bisa mengambil pelajaran terbaik.
Meskipun demikian, para orang tua dengan ABK tak perlu patah arang. Kini banyak orang tua dan para pemerhati ABK yang membentuk komunitas peduli ABK, sebut saja komunitas VEN sendiri, ‘Mari Kita Saling Bantu’, ‘Anak Berbakat’dan juga Indonesian Disabled Care Community. Komunitas-komunitas ini bisa dijadikan ajang pertukaran wawasan dan pemecahan solusi, baik melalui pertemuan-pertemuan langsung ataupun virtual—seperti milis atau komunitas maya.
Julia Maria van Tiel, narasumber ketiga pun memungkas talkshow pagi itu dengan ajakan inspiratif, “Pemerintah sudah menyediakan dasar perjuangan kita melalui peraturan perundangan. Sekaranglah tugas masyarakat untuk mengaplikasikannya. Saatnya kita, pemerhati ABK membangun system networking yang memungkinkan kita untuk membantu anak-anak special itu berkembang dan menemukan potensi terbaik mereka.”
http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/kabar/11/12/09/lvx0qa-terapi-tepat-untuk-anak-spesial
Begitu pula yang terjadi dalam talkshow “Serba-serbi ABK” yang diadakan oleh Volunteer Education Network (VEN), 27 November lalu. Talkshow yang hangat itu menjadi sarat manfaat karena peserta tidak hanya mendengarkan kisah-kisah sukses para pakar Pendidikan Luar Biasa dalam mendidik anak-anak spesial, tapi juga bisa “curhat” dengan mereka. Bahkan sesekali rasa haru juga menyelimuti atmosfer KFC Kemang pagi itu saat beberapa orang tua membagi pengalaman mereka dalam memperjuangkan hak-hak anaknya agar dapat hidup layaknya anak-anak lainnya.
Dari penuturan beberapa ibu yang hadir, perjuangan pertama yang harus mereka hadapi cukup berat, yaitu menerima kenyataan bahwa mereka memiliki anak yang berkebutuhan khusus, seperti cerebral palsy, down syndrome, diskalkulia, atau bahkan anak-anak berbakat (gifted).
Belum lagi keterasingan yang mereka dapatkan dari sebagian keluarga dan lingkungan sekitar. Padahal, menurut Adi D Adinugroho-Horstman, pendiri komunitas VEN, penerimaan ini merupakan langkah awal yang menentukan penanganan selanjutnya. Jika orang tua sudah mampu melapangkan dadanya dengan kenyataan tersebut, mereka akan mampu memfokuskan diri untuk mengembangkan potensi lain yang dimiliki sang anak, yang mungkin tidak sempat tersorot karena perhatian orang tua lebih tercurah pada perawatan lainnya.
Setelah mampu menerima kenyataan pun mereka masih menghadapi tantangan lain, yaitu bagaimana memilih terapi dan terapis yang tepat bagi anaknya. Memang saat ini banyak metode dan teknik-teknik yang ditawarkan untuk menstimulus perkembangan anak, hingga kerap membuat para orang tua kebingungan. Namun, belum tentu terapi yang cocok untuk seorang anak cerebral palsy (CP), misalnya, akan cocok juga diterapkan pada anak penyandang CP lainnya karena setiap dari mereka memiliki karakteristik unik yang berbeda-beda.
Untuk itu, Dr. Endang Widyorini, salah seorang narasumber yang merupakan dosen psikologi di sebuah universitas swasta di Semarang, menyarankan kepada mereka untuk melakukan assessment (penilaian mengenai kekhususan yang dimiliki si anak) dengan tepat. Selain menekan biaya, diagnosis yang tepat akan memungkinkan anak mendapat terapi yang tepat sedini mungkin.
Sementara itu, Adi berpendapat bahwa ahli yang sebenarnya dalam membantu perkembangan ABK adalah orang tua sendiri. Memang mereka perlu mengikuti anjuran terapis dan psikolog, tapi orang tua juga perlu menggunakan intuisinya untuk menentukan penanganan terbaik bagi anaknya, karena merekalah yang mengamati perkembangan sang anak sedari kecil.
Terkadang ayah dan ibu juga perlu bereksplorasi mencari model yang terapi yang cocok untuk anaknya. “Tak jarang,” kata Adi,“filosofi ‘the bitter experience can be the better learning resource’ (pengalaman yang pahit justru bisa menjadi sumber pembelajaran yang lebih baik) juga berlaku.” Mungkin dalam eksplorasi tersebut mereka bisa menemui hal-hal yang tidak diinginkan, tapi dari situ mereka bisa mengambil pelajaran terbaik.
Meskipun demikian, para orang tua dengan ABK tak perlu patah arang. Kini banyak orang tua dan para pemerhati ABK yang membentuk komunitas peduli ABK, sebut saja komunitas VEN sendiri, ‘Mari Kita Saling Bantu’, ‘Anak Berbakat’dan juga Indonesian Disabled Care Community. Komunitas-komunitas ini bisa dijadikan ajang pertukaran wawasan dan pemecahan solusi, baik melalui pertemuan-pertemuan langsung ataupun virtual—seperti milis atau komunitas maya.
Julia Maria van Tiel, narasumber ketiga pun memungkas talkshow pagi itu dengan ajakan inspiratif, “Pemerintah sudah menyediakan dasar perjuangan kita melalui peraturan perundangan. Sekaranglah tugas masyarakat untuk mengaplikasikannya. Saatnya kita, pemerhati ABK membangun system networking yang memungkinkan kita untuk membantu anak-anak special itu berkembang dan menemukan potensi terbaik mereka.”
http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/kabar/11/12/09/lvx0qa-terapi-tepat-untuk-anak-spesial
Rabu, 24 Agustus 2011
Autisme
Diskripsi
Autisme merupakan gangguan perkembangan yang kompleks, yang biasanya muncul pada usia 1-3 tahun. Tanda-tanda autisme bisa diketahui pada tahun pertama dan selalu sbelum anak berusia 3 tahun. Namun hingga kini dunia kedokteran belum mengetahui secara pasti dari autisme. Kemungkinan autisme disebabkan kelainan biologis dan neurologis di otak, termasuk ketidakseimbangan biokimia, faktor genetik dan gangguan kekebalan.
Gejala
Jika mendapati anak usia 1-3 tahun tidak mau berinteraksi, komunikasi verbal maupun non verbalnya kurang, serta minatnya aneh dan terbatas, waspadalah mungkin anak itu mengalami autisme.
Pengobatan
Meski demikian, autisme bisa "disembuhkan". Kuncinya kesembuhannya pada peran orangtua. Orangtua harus terlibat penuh dalam aktivitas si anak. Selain itu, memberikan kata-kata yang sifatnya positif seperti, "sayang", "Love u", dan sebagainya sangat membantu dalam membentuk mental anak.
Autisme merupakan gangguan perkembangan yang kompleks, yang biasanya muncul pada usia 1-3 tahun. Tanda-tanda autisme bisa diketahui pada tahun pertama dan selalu sbelum anak berusia 3 tahun. Namun hingga kini dunia kedokteran belum mengetahui secara pasti dari autisme. Kemungkinan autisme disebabkan kelainan biologis dan neurologis di otak, termasuk ketidakseimbangan biokimia, faktor genetik dan gangguan kekebalan.
Gejala
Jika mendapati anak usia 1-3 tahun tidak mau berinteraksi, komunikasi verbal maupun non verbalnya kurang, serta minatnya aneh dan terbatas, waspadalah mungkin anak itu mengalami autisme.
Pengobatan
Meski demikian, autisme bisa "disembuhkan". Kuncinya kesembuhannya pada peran orangtua. Orangtua harus terlibat penuh dalam aktivitas si anak. Selain itu, memberikan kata-kata yang sifatnya positif seperti, "sayang", "Love u", dan sebagainya sangat membantu dalam membentuk mental anak.
http://www.detikhealth.com/read/2009/06/30/091419/1156173/770/autisme
7 Tanda - Tanda Autis Sejak Dini
7 Tanda - Tanda Autis Sejak Dini
Sebagian besar gejala autisme sudah terlihat sejak anak berusia di bawah 3 tahun. Bahkan, beberapa orangtua sudah melihat gejala autis saat bayi mereka berusia 9 bulan. Tanda-tanda autisme berikut sudah bisa dikenali sejak bayi berusia satu tahun ke atas.
1. Apakah anak Anda memiliki rasa tertarik pada anak lain? (Ya/Tidak)
2. Apakah anak Anda pernah menggunaan telunjuk untuk menunjukkan rasa tertariknya pada sesuatu? (Y/T)
3. Apakah anak Anda menatap mata Anda lebih dari satu atau dua detik? (Y/T)
4. Apakah anak Anda meniru Anda? Misalnya, bila Anda membuat raut wajah tertentu, apakah ia menirunya? (Y/T)
5. Apakah anak Anda memberi reaksi bila namanya dipanggil? (Y/T)
6. Bila Anda menunjuk pada sebuah mainan/apapun di sisi ruangan, apakah anak Anda melihat pada mainan/benda tersebut? (Y/T)
7. Apakah anak Anda pernah bermain "sandiwara" misalnya berpura-pura menyuapi boneka, berbicara di telepon, dan sebagainya? (Y/T)
Seorang anak berpeluang menyandang autis, jika minimal dua dari pertanyaan di atas dijawab Tidak. Konsultasikan hal ini kepada dokter ahli untuk mendapatkan diagnosis yang tepat.
1. Apakah anak Anda memiliki rasa tertarik pada anak lain? (Ya/Tidak)
2. Apakah anak Anda pernah menggunaan telunjuk untuk menunjukkan rasa tertariknya pada sesuatu? (Y/T)
3. Apakah anak Anda menatap mata Anda lebih dari satu atau dua detik? (Y/T)
4. Apakah anak Anda meniru Anda? Misalnya, bila Anda membuat raut wajah tertentu, apakah ia menirunya? (Y/T)
5. Apakah anak Anda memberi reaksi bila namanya dipanggil? (Y/T)
6. Bila Anda menunjuk pada sebuah mainan/apapun di sisi ruangan, apakah anak Anda melihat pada mainan/benda tersebut? (Y/T)
7. Apakah anak Anda pernah bermain "sandiwara" misalnya berpura-pura menyuapi boneka, berbicara di telepon, dan sebagainya? (Y/T)
Seorang anak berpeluang menyandang autis, jika minimal dua dari pertanyaan di atas dijawab Tidak. Konsultasikan hal ini kepada dokter ahli untuk mendapatkan diagnosis yang tepat.
Ciri - Ciri dan Mitos Autisme
Ciri - Ciri dan Mitos Autisme
Sejauh ini tidak ditemukan tes klinis yang dapat mendiagnosa langsung autisme. Diagnosa yang paling tepat adalah dengan cara seksama mengamati perlilaku anak dalam berkomunikasi, bertingkah laku dan tingkat perkembangannya. Dikarenakan banyaknya perilaku autisme juga disebabkan oleh adanya kelainan kelainan lain (bukan autis) sehingga tes klinis dapat pula dilakukan untuk memastikan kemungkinan adanya penyebab lain tersebut.
Karena karakteristik dari penyandang autisme ini banyak sekali ragamnya sehingga cara diagnosa yang paling ideal adalah dengan memeriksakan anak pada beberapa tim dokter ahli seperti ahli neurologis, ahli psikologi anak, ahli penyakit anak, ahli terapi bahasa, ahli pengajar dan ahli profesional lainnya dibidang autisme. Dokter ahli / praktisi profesional yang hanya mempunyai sedikit pengetahuan / training mengenai autisme akan mengalami kesulitan dalam men-diagnosa autisme. Kadang kadang dokter ahli / praktisi profesional keliru melakukan diagnosa dan tidak melibatkan orang tua sewaktu melakukan diagnosa. Kesulitan dalam pemahaman autisme dapat menjurus pada kesalahan dalam memberikan pelayanan kepada penyandang autisme yang secara umum sangat memerlukan perhatian yang khusus dan rumit.
Hasil pengamatan sesaat belumlah dapat disimpulkan sebagai hasil mutlak dari kemampuan dan perilaku seorang anak. Masukkan dari orang tua mengenai kronologi perkembangan anak adalah hal terpenting dalam menentukan keakuratan hasil diagnosa. Secara sekilas, penyandang autis dapat terlihat seperti anak dengan keterbelakangan mental, kelainan perilaku, gangguan pendengaran atau bahkan berperilaku aneh dan nyentrik. Yang lebih menyulitkan lagi adalah semua gejala tersebut diatas dapat timbul secara bersamaan.
Karenanya sangatlah penting untuk membedakan antara autisme dengan yang lainnya sehingga diagnosa yang akurat dan penanganan sedini mungkin dapat dilakukan untuk menentukan terapi yang tepat.
Seperti apakah anak yang terkena autisme?
Sejak lahir sampai dengan umur 24 - 30 bulan anak anak yang terkena autisme umumnya terlihat normal. Setelah itu orang tua mulai melihat perubahan seperti keterlambatan berbicara, bermain dan berteman (bersosialisasi). Autisme adalah kombinasi dari beberapa kelainan perkembangan otak. Kemampuan dan perilaku dibawah ini adalah beberapa kelainan yang disebabkan oleh autisme.
Sejak lahir sampai dengan umur 24 - 30 bulan anak anak yang terkena autisme umumnya terlihat normal. Setelah itu orang tua mulai melihat perubahan seperti keterlambatan berbicara, bermain dan berteman (bersosialisasi). Autisme adalah kombinasi dari beberapa kelainan perkembangan otak. Kemampuan dan perilaku dibawah ini adalah beberapa kelainan yang disebabkan oleh autisme.
Komunikasi:
Kemampuan berbahasa mengalami keterlambatan atau sama sekali tidak dapat berbicara. Menggunakan kata kata tanpa menghubungkannya dengan arti yang lazim digunakan. Berkomunikasi dengan menggunakan bahasa tubuh dan hanya dapat berkomunikasi dalam waktu singkat.
Kemampuan berbahasa mengalami keterlambatan atau sama sekali tidak dapat berbicara. Menggunakan kata kata tanpa menghubungkannya dengan arti yang lazim digunakan. Berkomunikasi dengan menggunakan bahasa tubuh dan hanya dapat berkomunikasi dalam waktu singkat.
Bersosialisasi (berteman)
Lebih banyak menghabiskan waktunya sendiri daripada dengan orang lain. Tidak tertarik untuk berteman. Tidak bereaksi terhadap isyarat isyarat dalam bersosialisasi atau berteman seperti misalnya tidak menatap mata lawan bicaranya atau tersenyum.
Lebih banyak menghabiskan waktunya sendiri daripada dengan orang lain. Tidak tertarik untuk berteman. Tidak bereaksi terhadap isyarat isyarat dalam bersosialisasi atau berteman seperti misalnya tidak menatap mata lawan bicaranya atau tersenyum.
Kelainan penginderaan
Sensitif terhadap cahaya, pendengaran, sentuhan, penciuman dan rasa (lidah) dari mulai ringan sampai berat.
Sensitif terhadap cahaya, pendengaran, sentuhan, penciuman dan rasa (lidah) dari mulai ringan sampai berat.
Bermain
Tidak spontan / reflek dan tidak dapat berimajinasi dalam bermain. Tidak dapat meniru tindakan temannya dan tidak dapat memulai permainan yang bersifat pura pura.
Tidak spontan / reflek dan tidak dapat berimajinasi dalam bermain. Tidak dapat meniru tindakan temannya dan tidak dapat memulai permainan yang bersifat pura pura.
Perilaku
Dapat menjadi sangat hiperaktif atau sangat pasif (pendiam). Marah tanpa alasan yang masuk akal. Amat sangat menaruh perhatian pada satu benda, ide, aktifitas ataupun orang. Tidak dapat menunjukkan akal sehatnya. Dapat sangat agresif ke orang lain atau dirinya sendiri. Seringkali sulit mengubah rutinitas sehari hari. kembali keatas
Dapat menjadi sangat hiperaktif atau sangat pasif (pendiam). Marah tanpa alasan yang masuk akal. Amat sangat menaruh perhatian pada satu benda, ide, aktifitas ataupun orang. Tidak dapat menunjukkan akal sehatnya. Dapat sangat agresif ke orang lain atau dirinya sendiri. Seringkali sulit mengubah rutinitas sehari hari. kembali keatas
Mitos mengenai Autisme
Mitos-1 : Anak dengan kelainan autisme tidak pernah memandang mata lawan bicara-nya.
Banyak anak penyandang autisme ternyata dapat melakukan kontak mata tapi kontak mata tersebut mungkin dilakukan dalam jangka waktu yang lebih singkat dan sedikit berbeda dengan anak anak yang normal. Banyak diantaranya dapat bertatap muka, tersenyum dan meng-ekspresikan komunikasi non-verbal (bahasa tubuh) dengan baik.
Mitos-2 : Anak dengan kelainan autisme adalah anak jenius
Mitos yang menyatakan didalam anak penyandang autis tersembunyi kemampuan jenius mungkin dapat terjadi karena berbedanya kemampuan yang di-tunjukkan oleh anak penyandang autisme. Mereka dapat menunjukkan kemampuan fisik yang baik tetapi tidak dapat berbicara. Seorang anak autis dapat mengingat tanggal ulang tahun dari semua teman sekelasnya akan tetapi mengalami kesulitan kapan harus menggunakan kata ‘kamu’ atau ’saya’. Anak autis dapat membaca dengan artikulasi yang baik tetapi tidak dapat mengerti apa yang baru mereka baca. Anak autis dapat mempunyai IQ yang sangat tinggi. Sebagian besar anak autis menunjukkan keterlambatan dalam beberapa hal yang menggunakan ataupun memerlukan proses mental. Persentasi anak autis yang mempunyai intelegensi diatas normal ataupun dibawah normal adalah sangat kecil.
Mitos-3 : Anak dengan kelainan autisme tidak berbicara
Banyak anak penyandang autis dapat mempunyai kemampuan berbahasa dengan baik. Sebagian besar dari mereka dapat berkomunikasi dengan menggunakan simbol, gambar, komputer ataupun peralatan elektronik.
Mitos-4 : Anak dengan kelainan autisme tidak dapat menunjukkan kasih sayang
Barangkali mitos yang paling berlebihan adalah menganggap anak penyandang autisme tidak dapat menerima ataupun memberikan kasih sayang. Kita mengetahui bahwa stimulasi sensor anak autis diproses dengan cara yang berbeda dengan anak normal sehingga mengakibatkan anak autis mengalami kesulitan dalam meng-ekspresikan kasih sayang dengan cara yang lazim dilakukan oleh anak normal. Anak autis dapat memberikan dan menerima kasih sayang dengan cara mereka sendiri, kadangkala anggota keluarga ataupun teman mereka harus sabar menunggu dan belajar untuk dapat mengerti dan menghargai kemampuan anak autis yang terbatas dalam berhubungan dengan orang lain.
Mitos - mitos lainnya :
- Autisme adalah akibat salah asuhan orang tua
- Anak autis adalah anak yang tidak disiplin dan tidak dapat diatur dan ini hanyalah kelainan perilaku.
- Kebanyakan orang autis berpendidikan dan ahli terkemuka dalam bidang ilmu pengetahuan dan bidang lainnya seperti digambarkan dengan sangat bagus dalam film ‘Rain Man’ yang diperankan oleh Dustin Hoffman.
- Anak autis adalah anak anak tanpa perasaan dan emosi
- Anak autis tidak menyukai daya tarik fisik
- Anak autis tidak tersenyum
- Anak Autis tidak menginginkan teman
- Anak autis dapat berbicara jika mereka mau
- Autisme adalah ketidak mampuan emosional
http://novi4lifetransferfactor.blogdetik.com/tag/terapi-anak-autis/?l991101blog
Langganan:
Komentar (Atom)