Rabu, 24 Agustus 2011

Permainan Visual


1. Permainan warna
- Siapkan mainan aneka warna
menarik. Gantungkan di sisi
boksnya atau letakkan di tempat
yang mudah dijangkau si
buah hati.
- Benda berwarna dapat merangsang
keterampilan visual
anak, juga saraf sensorik dan
motoriknya.
2. Indahnya alam
- Ajak si kecil mengamati
benda-benda atau hewan di sekeliling
rumah.
- Ceritakan pengamatan
yang dilakukan si kecil, misalnya
sayap kupu-kupu itu berbintik
putih dan bergaris kuning.
- Sering keluar kamar dapat
memperluas wawasan si kecil
dan menstimulasi daya ingatnya.
Permainan Motorik
1. Melatih keseimbangan
- Berbaringlah dan letakkan
si kecil di atas perut Anda.
- Pegang dadanya erat-erat
dan angkat ke atas dengan wajahnya
menghadap ke Anda, lalu
turunkan tubuhnya.
- Ulangi kegiatan ini hingga
si kecil bosan atau lelah.
- Kegiatan ini bermanfaat
melatih kekuatan punggung
dan leher.
2. Bermain bola
- Ikatkan benda berwarna
cerah, seperti bola kecil atau
kaus kaki, ke kaki si kecil.
- Anda dapat juga memasang
lonceng kecil di depan kakinya.
- Ajari si kecil menendang
bola atau lonceng itu dengan
kaki mungilnya.
- Keterampilan motorik yang
terus berulang menguatkan sirkuit
neural yang terhubung dengan
wilayah motorik dan keluar-
masuk ke saraf yang menggerakkan
otot.
Permainan Bahasa
1. Bercakap-cakap dengan si
kecil
- Rangkailah kata-kata si kecil
menjadi kalimat, misalnya
“Mama sayang kamu” atau
“Baba pergi ke pasar”.
- Berbicaralah dengan pengucapan
yang benar, seperti minum
“susu”, tapi bukan minum
“cucu”.
- Beri pujian atau tepuk tangan
sewaktu ia mengucapkan
kata-kata, sehingga si kecil terdorong
mengeluarkan lebih banyak
suara.
- Bercakap dengan si kecil
mengembangkan koneksi otak
dalam berbahasa.
2. Mendongeng
- Dongengkan si kecil, misalnya
tentang Pinokio atau cerita
lokal yang Anda ketahui.
- Gunakan suara parentese
untuk semakin menghidupkan
cerita.
- Gunakan pula kata-kata
dramatis untuk memperkaya
cerita.
- Cerita pengantar tidur sangat
baik sebagai alat transfer
pengetahuan dan memperbanyak
kosakata.
l HERU TRIYONO | AMANDA SETIORINI |
PELBAGAI SUMBER

Mengendalikan Hasrat Biologis Si Autis

Ajis, sebut saja begitu, gemar
memegang buah dada
perempuan. Semua guru
perempuan di sekolah terapinya
pernah dijamah oleh remaja
autis berusia 14 tahun itu.
Sang guru,Yanti, 28 tahun, bercerita,
Ajis sering mendadak “mencaplok”
dadanya dari belakang—
ketika ia sedang mengajar. “Kadang
juga dari samping,” Yanti
bercerita saat seminar autis di
Graha Niaga, Jakarta,Sabtu lalu.
Menurut Yanti, pemahaman
Ajis sangat rendah mengenai perilaku
seks. Ditambah, dia suka
mengamuk saat dilarang, dan
kembali memegang payudara jika
didekati. Yanti mengajar di
Miracle School & Therapy di Kedoya
Raya, Jakarta Barat. Sudah
satu tahun dia mengajar di sekolah
inklusi itu.Dia kerap kesulitan
menghadapi remaja dengan
autistik yang berperilaku seperti
Ajis.
Praktisi terapi perilaku, Dra
Dini Oktaufik, melihat kemampuan
prasyarat Ajis tampak belum
terpenuhi. Pertama, soal kepatuhan
yang belum bagus, ditambah
perilakunya yang juga
belum bagus. Dalam kasus ini,
Dini menyarankan, pengajar memakai
meja besar agar tangan
anak tidak bisa meraih dada
pengajarnya. Gunakan konsep
token behavior—sebagai tanda
penghargaan atas perilaku baik
untuk anak autis.
Misalnya, dijelaskan oleh Dini,
buatlah visual reminder—tulisan
“Tangan Baik”—yang diletakkan
di atas mejanya. Berikan ke anak
tugas sederhana. “Targetnya bukan
tugas itu, melainkan untuk
mengajari tangannya,” ujar psikolog
dari Yayasan Intervention
Service for Autism and Developmental
Delay ini saat seminar.
Katakanlah, jika selama 30 detik
tangannya tidak menjamah
lagi dada si pengajar,beri kejutan
kepadanya. Dini menyarankan
untuk memberi makanan yang
diletakkan di atas visual reminder
tadi (tulisan “Tangan Baik”).
Jadi si anak paham bahwa perilakunya
itu baik.
Yang penting, jangan banyak
menasihati secara verbal ke mereka.
“Karena itu tidak diproses
dalam otaknya. Autis lebih menyerap
secara visual.”
Selanjutnya, setelah tangan sudah
baik, boleh diganti mejanya
dengan yang lebih kecil. Kalau
dia kumat lagi, tangkis tangannya
sampai tidak berhasil. Kalaupun
ia berhasil menyentuh,
yang disentuh tidak boleh heboh.
Bisa jadi si anak belum tahu sensasi
memegang payudara. Tapi
dia lebih mencari sensasi reaksi
orang yang disentuh. “Pastikan
kita tidak memberikan sensasi
yang dia cari,”tuturnya.
Lebih jauh, beberapa remaja
dengan autistik doyan masturbasi.
Memang, masturbasi adalah
alamiah—sama seperti orang lapar.
Meski dialihkan membaca
buku, tetap rasa lapar datang juga.
Sehingga pada waktu tertentu,
menurut Dini, mereka butuh
pelepasan.“Yang harus diajarkan
adalah di mana boleh melakukan
itu.”Misalnya, di kamar mandi di
kala sendiri. “Sehingga mereka
paham akan privasinya.”
Cerita unik juga dipaparkan
oleh Nazila—pengajar anak berkebutuhan
khusus di Jakarta—
dalam seminar itu. Salah satu
muridnya menjadikan masturbasi
sebagai senjata untuk lari dari
proses belajar. Remaja dengan
autistik ini seperti mempelajari
bahwa masturbasi bisa jadi pelarian
dari terapi. “Mereka menganggap
sudah lepas dari tugas,
dapat yang asyik-asyik lagi di
kamar mandi,”kata Dini.
Untuk perilaku yang satu ini,
Dini menyarankan, sebaiknya
anak dibebastugaskan dulu dari
program matematika, baca, tulis,
dan lain-lain. Beri tugas yang
mudah, yang dia pernah kerjakan.
Targetnya, menghentikan
perilaku lari dari terapi dengan
masturbasi. Berikan reward yang
tepat dan menarik, sehingga dia
lebih merasa mendapatkan reward
dari terapis daripada diri
sendiri dengan melakukan kegiatan
seks tadi.“Lebih baik gunakan
the power of reward daripada
the power of punishment,”Dini
menjelaskan.
Banyak contoh lain perilaku
seks remaja dengan autistik,mulai
kebiasaan memegang kemaluan
hingga memperhatikan atau
menyentuh bagian vital tubuh
orang lain. Kebiasaan ini sering
kali baru disadari oleh orang tua
seiring dengan anak tumbuh dewasa.
“Orang tua kadang baru
sadar saat mereka (anak dengan
autistik) melakukan hal itu di depan
umum,”kata Dini.
Bahkan orang tua sering kali
salah didik mengenai perilaku
seks pada anak dengan autistik.
Contoh, Dini pernah “disenggol”
lututnya oleh remaja dengan autistik
saat sedang berdiskusi dengan
orang tua remaja itu. Dan
yang dilakukan orang tua anak
itu sungguh di luar dugaan Dini.
“Mereka malah tertawa dan mengatakan
‘Aduh, jangan begitu
dong,Mas’,”Dini bercerita.
Yang terjadi, tertawa itu malah
membawa konsekuensi positif.
Maka perilaku negatif si anak
yang diganjar konsekuensi positif
mengakibatkan perilaku negatif
menjadi menetap.“Anak menjadi
terbiasa seperti itu,”katanya.
Pendiri Masyarakat Peduli Autisme
Indonesia, Gayatri Pamoedji,
mengakui pendidikan seks
untuk anak dengan autistik jarang
dibicarakan, sehingga sejumlah
remaja dengan autistik memiliki
perilaku seks yang tidak baik.
Bisa jadi, menurut Gayatri,
seks di Indonesia dianggap tabu
atau tidak penting. Selain itu,
orang tua lebih berfokus meningkatkan
kemampuan anaknya di
bidang akademik.“Padahal anak
dengan autistik akan tumbuh dewasa,”
tutur penulis buku 200
Pertanyaan dan Jawaban Seputar
Autisme ini dalam kesempatan
terpisah. l HERU TRIYONO

Koran Tempo
S E N I N , 5 A P R I L 2 0 1 0

Tidak ada yang sia-sia

Tidak ada yang sia-sia.
Semua ciptaan ALLAH memiliki manfaat.
Semua ciptaan ALLAH sempurna.

*merenung dan selalu berharap dengan doa yang tak pernah putus dipanjatkan kepada Allah SWT  sambil meneteskan  airmata saat menatap Mufid -salah satu buah hati kami yang menderita autis*

Sempurna dalam pandangan dan rencana ALLAH untuk mengajarkan hamba-hambaNYA.
Allah tidak akan menciptakan sesuatu dengan sia-sia.
Merupakan kebijaksanaan ALLAH menciptakan hal-hal yang saling berlawanan.
malaikat dan setan
siang dan malam
baik dan buruk
bagus dan jelek
keburukan dan kebaikan.
Allah juga menciptakan di antara mereka
kaya dan miskin
sehat dan sakit
berakal dan bodoh.
Di antara hikmah dalam penciptaan tersebut adalah bahwa Allah akan memberi cobaan kepada mereka, dan menjadikan sebagian mereka sebagai cobaan bagi yang lain. Agar menjadi jelas siapa yang bersyukur dan siapa yang kufur kepada-Nya.
Allah berfirman : “…Sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir” (Al-Insan : 1-3)
Juga firman Allah :” Maha Suci Allah Yang di tangan-NYA lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu, Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (Al-Mulk : 1-2)

Besrsyukur atas segala pemberian-Nya adalah sikap terbaik dalam menyikapi apapun kehendak Allah atas makhluk ciptaan-Nya.

Kita maknai bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Allah tidak bisa ditanya tentang keputusan-keputusanNYA, justru kita yang akan dimintai pertanggung jawaban atas perbuatan kita. Terlebih, apa reaksi kita setelah dihadapkan dengan suatu keadaan yang demikian.
Segala hikmah Allah yang kita ketahui dari ALLAH harus kita imani. Dan yang tidak mampu kita ketahui, kita serahkan kepada NYA. Allah lebih mengetahui dan lebih bijaksana. Kita hanya memiliki ilmu yg Allah ajarkan kpd kita, dan Dia-lah Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.