Ajis, sebut saja begitu, gemar
memegang buah dada
perempuan. Semua guru
perempuan di sekolah terapinya
pernah dijamah oleh remaja
autis berusia 14 tahun itu.
Sang guru,Yanti, 28 tahun, bercerita,
Ajis sering mendadak “mencaplok”
dadanya dari belakang—
ketika ia sedang mengajar. “Kadang
juga dari samping,” Yanti
bercerita saat seminar autis di
Graha Niaga, Jakarta,Sabtu lalu.
Menurut Yanti, pemahaman
Ajis sangat rendah mengenai perilaku
seks. Ditambah, dia suka
mengamuk saat dilarang, dan
kembali memegang payudara jika
didekati. Yanti mengajar di
Miracle School & Therapy di Kedoya
Raya, Jakarta Barat. Sudah
satu tahun dia mengajar di sekolah
inklusi itu.Dia kerap kesulitan
menghadapi remaja dengan
autistik yang berperilaku seperti
Ajis.
Praktisi terapi perilaku, Dra
Dini Oktaufik, melihat kemampuan
prasyarat Ajis tampak belum
terpenuhi. Pertama, soal kepatuhan
yang belum bagus, ditambah
perilakunya yang juga
belum bagus. Dalam kasus ini,
Dini menyarankan, pengajar memakai
meja besar agar tangan
anak tidak bisa meraih dada
pengajarnya. Gunakan konsep
token behavior—sebagai tanda
penghargaan atas perilaku baik
untuk anak autis.
Misalnya, dijelaskan oleh Dini,
buatlah visual reminder—tulisan
“Tangan Baik”—yang diletakkan
di atas mejanya. Berikan ke anak
tugas sederhana. “Targetnya bukan
tugas itu, melainkan untuk
mengajari tangannya,” ujar psikolog
dari Yayasan Intervention
Service for Autism and Developmental
Delay ini saat seminar.
Katakanlah, jika selama 30 detik
tangannya tidak menjamah
lagi dada si pengajar,beri kejutan
kepadanya. Dini menyarankan
untuk memberi makanan yang
diletakkan di atas visual reminder
tadi (tulisan “Tangan Baik”).
Jadi si anak paham bahwa perilakunya
itu baik.
Yang penting, jangan banyak
menasihati secara verbal ke mereka.
“Karena itu tidak diproses
dalam otaknya. Autis lebih menyerap
secara visual.”
Selanjutnya, setelah tangan sudah
baik, boleh diganti mejanya
dengan yang lebih kecil. Kalau
dia kumat lagi, tangkis tangannya
sampai tidak berhasil. Kalaupun
ia berhasil menyentuh,
yang disentuh tidak boleh heboh.
Bisa jadi si anak belum tahu sensasi
memegang payudara. Tapi
dia lebih mencari sensasi reaksi
orang yang disentuh. “Pastikan
kita tidak memberikan sensasi
yang dia cari,”tuturnya.
Lebih jauh, beberapa remaja
dengan autistik doyan masturbasi.
Memang, masturbasi adalah
alamiah—sama seperti orang lapar.
Meski dialihkan membaca
buku, tetap rasa lapar datang juga.
Sehingga pada waktu tertentu,
menurut Dini, mereka butuh
pelepasan.“Yang harus diajarkan
adalah di mana boleh melakukan
itu.”Misalnya, di kamar mandi di
kala sendiri. “Sehingga mereka
paham akan privasinya.”
Cerita unik juga dipaparkan
oleh Nazila—pengajar anak berkebutuhan
khusus di Jakarta—
dalam seminar itu. Salah satu
muridnya menjadikan masturbasi
sebagai senjata untuk lari dari
proses belajar. Remaja dengan
autistik ini seperti mempelajari
bahwa masturbasi bisa jadi pelarian
dari terapi. “Mereka menganggap
sudah lepas dari tugas,
dapat yang asyik-asyik lagi di
kamar mandi,”kata Dini.
Untuk perilaku yang satu ini,
Dini menyarankan, sebaiknya
anak dibebastugaskan dulu dari
program matematika, baca, tulis,
dan lain-lain. Beri tugas yang
mudah, yang dia pernah kerjakan.
Targetnya, menghentikan
perilaku lari dari terapi dengan
masturbasi. Berikan reward yang
tepat dan menarik, sehingga dia
lebih merasa mendapatkan reward
dari terapis daripada diri
sendiri dengan melakukan kegiatan
seks tadi.“Lebih baik gunakan
the power of reward daripada
the power of punishment,”Dini
menjelaskan.
Banyak contoh lain perilaku
seks remaja dengan autistik,mulai
kebiasaan memegang kemaluan
hingga memperhatikan atau
menyentuh bagian vital tubuh
orang lain. Kebiasaan ini sering
kali baru disadari oleh orang tua
seiring dengan anak tumbuh dewasa.
“Orang tua kadang baru
sadar saat mereka (anak dengan
autistik) melakukan hal itu di depan
umum,”kata Dini.
Bahkan orang tua sering kali
salah didik mengenai perilaku
seks pada anak dengan autistik.
Contoh, Dini pernah “disenggol”
lututnya oleh remaja dengan autistik
saat sedang berdiskusi dengan
orang tua remaja itu. Dan
yang dilakukan orang tua anak
itu sungguh di luar dugaan Dini.
“Mereka malah tertawa dan mengatakan
‘Aduh, jangan begitu
dong,Mas’,”Dini bercerita.
Yang terjadi, tertawa itu malah
membawa konsekuensi positif.
Maka perilaku negatif si anak
yang diganjar konsekuensi positif
mengakibatkan perilaku negatif
menjadi menetap.“Anak menjadi
terbiasa seperti itu,”katanya.
Pendiri Masyarakat Peduli Autisme
Indonesia, Gayatri Pamoedji,
mengakui pendidikan seks
untuk anak dengan autistik jarang
dibicarakan, sehingga sejumlah
remaja dengan autistik memiliki
perilaku seks yang tidak baik.
Bisa jadi, menurut Gayatri,
seks di Indonesia dianggap tabu
atau tidak penting. Selain itu,
orang tua lebih berfokus meningkatkan
kemampuan anaknya di
bidang akademik.“Padahal anak
dengan autistik akan tumbuh dewasa,”
tutur penulis buku 200
Pertanyaan dan Jawaban Seputar
Autisme ini dalam kesempatan
terpisah. l HERU TRIYONO
Koran Tempo
S E N I N , 5 A P R I L 2 0 1 0
Tidak ada komentar:
Posting Komentar