Rabu, 24 Agustus 2011

Merangsang Tumbuh-Kembang


Bayi yang tidak terstimulasi
akan menarik diri dan
gagal berinteraksi dengan
orang lain.


 
Di usianya yang hampir dua tahun,
Andra amat terampil
mencoret-coret tembok rumah
neneknya dengan spidol.
Ia sudah hampir bisa menggambar
kupu-kupu atau bebek, meski bentuknya
tidak keruan. Anak batita ini
sering juga bermain peran, seperti
bermimik sedih atau pura-pura berekspresi
lucu saat digoda ayahnya.
Namun kegirangan Andra kadang
berubah jadi ketakutan, tatkala sang
ayah berperan sebagai raksasa atau
sesuatu yang tidak disukainya.“Atut
(takut),”kata Andra.
Perilaku aktif sang ayah ini sebenarnya
sudah membantu perkembangan
koneksi otak si kecil. Sebab,
si buah hati memerlukan lingkungan
yang menarik untuk dijelajahi, dan
dipenuhi orang yang memberi tanggapan
terhadap kebutuhan emosi
dan intelektualnya. Si buah hati butuh
orang yang mau bernyanyi, memeluk,
berbicara, menggendong, dan
membacakan cerita untuknya.
Ya, apa pun bentuk permainannya,
seperti dikatakan dr Su Laurent,
dokter spesialis anak (pediatri) Rumah
Sakit Barnet, London, Inggris,
dalam buku Ensiklopedia Perkembangan
Bayi, kegiatan ini amat penting
bagi perkembangan bayi. Dengan
bermain, anak mengenali dunia
sekitarnya,mengembangkan kemampuan
motorik, dan belajar berkomunikasi.
Bermain dengan si buah hati sejak
awal, kata Laurent, juga merupakan
cara terbaik membentuk ikatan batin.“
Bermain dengan si kecil penting
untuk membuat anak merasa aman
dan dicintai,”ujarnya.
Psikolog Anna Surti Ariani, Psi,
mengatakan, peran penting orang tua
adalah membimbing dan menuntun
anak dalam proses tumbuh-kembangnya.
Untuk itu, dia mendorong
orang tua memfasilitasi anak bermain
dengan beragam permainan.“Bisa
dimulai dengan menyelami bagaimana
sifat tumbuh-kembang anak dari
usia nol hingga si anak besar,” ujar
Anna seusai seminar bertajuk “Mengoptimalkan
Periode Emas Perkembangan
Anak dengan Parenting Encyclopedia”
di Jakarta beberapa waktu
lalu.
Misalnya, dengan memahami bahwa
pada usia tiga bulan si mungil sudah
dapat memfokuskan mata pada
jarak yang lebih jauh, di mana ia
akan selalu mencoba meraih benda
yang ada di hadapannya.
Menurut Laurent,pada usia tiga bulan,
sangat tepat untuk orang tua
membelikan mainan. Lalu pada bulan
keempat, si kecil masih belajar mengukur
jauhnya jarak sebuah benda.
Orang tua akan melihat dia bakal menatap
tangannya dulu, baru kemudian
mainannya.Baru pada usia lima bulan,
ia akan meraih serta menggenggam
barang dengan ketepatan dan kemudahan
yang jauh lebih tinggi.
Seterusnya, ia akan mengeksplorasi
sebanyak mungkin mainan dan
memasukkan semua benda ke dalam
mulut. Si kecil juga akan menyelidiki
segala hal. Ia akan tertarik pada benda-
benda harian, seperti sendok,
kunci, dan telepon. Ia juga sangat senang
membantu ayahnya. Jadi, menurut
Laurent, biarkanlah si kecil
mengeluarkan sayuran dari keranjang
belanjaan atau memasukkan kotak
sereal ke dalam lemari.
Selain itu, si buah hati berumur di
bawah dua tahun akan menikmati
berbagai bunyi. Ia akan girang bila
pada waktu tengkurap dibaringkan
di sebuah alas bermain dengan desain
khusus. Alas ini memiliki area
yang bergemeretak, bergemerincing,
dan menguik jika disentuh atau dilewati
si kecil ketika berguling. Orang
tua bisa membuatnya dari kaleng kecil
berisi beras atau gumpalan kertas.
Selain itu, lakukan tepuk tangan
mengikuti irama. Atau cobalah memainkan
lagu lewat kotak musik
yang ada di dekat tempat tidurnya.
Para bayi juga amat suka bouncer
(mainan seperti ayunan yang bisa dilambung-
lambungkan), yang digantung
di atas kusen pintu atau langitlangit.
Waktu selama 10 menit barangkali
sudah cukup bagi si buah
hati untuk bermain bouncer ini. Lalu
ajaklah si kecil memainkan permainan
yang disukai bayi di seluruh dunia,
yaitu cilukba.
Menurut Laurent, dalam bukunya
itu, ada berbagai versi cilukba di
hampir semua budaya. Permainan ini
mengajari si kecil, yang belum mengerti
bahwa benda terus ada walau
tak terlihat. Ini disebut sifat permanen
suatu benda. Nah, permainan cilukba
yang ringan ini akan mengajarkannya
konsep tersebut. “Malah
cilukba mungkin akan menjadi permainan
favoritnya selama berbulanbulan,”
tulis Laurent.
Jika sedikit sudah besar, katakanlah
3-5 tahun, Anna menunjuk permainan
tradisional sebagai pilihan
untuk anak. Permainan lokal, misalnya
petak jongkok, akan melatih kecerdasan
fisik. Sebab, di permainan
itu dituntut koordinasi motorik kotor
dan halus. Dalam permainan ini,
anak juga akan cerdas secara strategi,
karena harus mengatur kapan dia
jongkok dan kapan berdiri. “Permainan
tradisional ini membuat anak
senang. Ini membentuk emosi anak
menjadi positif, dan jadi stimulasi
untuk kecerdasan emosinya,”ujarnya.
Permainan ini juga menstimulasi
kecerdasan sosial anak. Lebih dari
itu, secara tak langsung, nilai moral
dibahas dalam petak jongkok.“Kamu
benar apa enggak tadi jongkok, kamu
sebenarnya kena apa enggak,” ujarnya.
Apalagi yang namanya mengajari
anak tentang moral, bukan dari
pelajaran di sekolah yang cuma duduk
dan menulis. “Dengan si kecil
bergerak, dia malah mendapat pelajaran
yang nyata,”Anna menjelaskan.
Namun, dari semua permainan itu,
hal yang terpenting adalah menikmati
waktu bermain dengan si kecil,
agar ia terstimulasi dengan rutin.
“Buah hati yang tidak terstimulasi
kemungkinan akan menarik diri dan
gagal berinteraksi dengan orang lain.
Begitu dasar sosial ini hilang, hampir
tidak mungkin untuk membangunnya
lagi,”tulis Laurent. l HERU TRIYONO

Tidak ada komentar:

Posting Komentar