Rabu, 24 Agustus 2011

Autisme


Diskripsi
Autisme merupakan gangguan perkembangan yang kompleks, yang biasanya muncul pada usia 1-3 tahun. Tanda-tanda autisme bisa diketahui pada tahun pertama dan selalu sbelum anak berusia 3 tahun. Namun hingga kini dunia kedokteran belum mengetahui secara pasti dari autisme. Kemungkinan autisme disebabkan kelainan biologis dan neurologis di otak, termasuk ketidakseimbangan biokimia, faktor genetik dan gangguan kekebalan.

Gejala
Jika mendapati anak usia 1-3 tahun tidak mau berinteraksi, komunikasi verbal maupun non verbalnya kurang, serta minatnya aneh dan terbatas, waspadalah mungkin anak itu mengalami autisme.

Pengobatan
Meski demikian, autisme bisa "disembuhkan". Kuncinya kesembuhannya pada peran orangtua. Orangtua harus terlibat penuh dalam aktivitas si anak. Selain itu, memberikan kata-kata yang sifatnya positif seperti, "sayang", "Love u", dan sebagainya sangat membantu dalam membentuk mental anak.
http://www.detikhealth.com/read/2009/06/30/091419/1156173/770/autisme

7 Tanda - Tanda Autis Sejak Dini


7 Tanda - Tanda Autis Sejak Dini
Sebagian besar gejala autisme sudah terlihat sejak anak berusia di bawah 3 tahun. Bahkan, beberapa orangtua sudah melihat gejala autis saat bayi mereka berusia 9 bulan. Tanda-tanda autisme berikut sudah bisa dikenali sejak bayi berusia satu tahun ke atas.



1. Apakah anak Anda memiliki rasa tertarik pada anak lain? (Ya/Tidak)

2. Apakah anak Anda pernah menggunaan telunjuk untuk menunjukkan rasa tertariknya pada sesuatu? (Y/T)

3. Apakah anak Anda menatap mata Anda lebih dari satu atau dua detik? (Y/T)

4. Apakah anak Anda meniru Anda? Misalnya, bila Anda membuat raut wajah tertentu, apakah ia menirunya? (Y/T)

5. Apakah anak Anda memberi reaksi bila namanya dipanggil? (Y/T)

6. Bila Anda menunjuk pada sebuah mainan/apapun di sisi ruangan, apakah anak Anda melihat pada mainan/benda tersebut? (Y/T)

7. Apakah anak Anda pernah bermain "sandiwara" misalnya berpura-pura menyuapi boneka, berbicara di telepon, dan sebagainya? (Y/T)

Seorang anak berpeluang menyandang autis, jika minimal dua dari pertanyaan di atas dijawab Tidak. Konsultasikan hal ini kepada dokter ahli untuk mendapatkan diagnosis yang tepat.

Ciri - Ciri dan Mitos Autisme


Ciri - Ciri dan Mitos Autisme

Sejauh ini tidak ditemukan tes klinis yang dapat mendiagnosa langsung autisme. Diagnosa yang paling tepat adalah dengan cara seksama mengamati perlilaku anak dalam berkomunikasi, bertingkah laku dan tingkat perkembangannya. Dikarenakan banyaknya perilaku autisme juga disebabkan oleh adanya kelainan kelainan lain (bukan autis) sehingga tes klinis dapat pula dilakukan untuk memastikan kemungkinan adanya penyebab lain tersebut.
Karena karakteristik dari penyandang autisme ini banyak sekali ragamnya sehingga cara diagnosa yang paling ideal adalah dengan memeriksakan anak pada beberapa tim dokter ahli seperti ahli neurologis, ahli psikologi anak, ahli penyakit anak, ahli terapi bahasa, ahli pengajar dan ahli profesional lainnya dibidang autisme. Dokter ahli / praktisi profesional yang hanya mempunyai sedikit pengetahuan / training mengenai autisme akan mengalami kesulitan dalam men-diagnosa autisme. Kadang kadang dokter ahli / praktisi profesional keliru melakukan diagnosa dan tidak melibatkan orang tua sewaktu melakukan diagnosa. Kesulitan dalam pemahaman autisme dapat menjurus pada kesalahan dalam memberikan pelayanan kepada penyandang autisme yang secara umum sangat memerlukan perhatian yang khusus dan rumit.
Hasil pengamatan sesaat belumlah dapat disimpulkan sebagai hasil mutlak dari kemampuan dan perilaku seorang anak. Masukkan dari orang tua mengenai kronologi perkembangan anak adalah hal terpenting dalam menentukan keakuratan hasil diagnosa. Secara sekilas, penyandang autis dapat terlihat seperti anak dengan keterbelakangan mental, kelainan perilaku, gangguan pendengaran atau bahkan berperilaku aneh dan nyentrik. Yang lebih menyulitkan lagi adalah semua gejala tersebut diatas dapat timbul secara bersamaan.
Karenanya sangatlah penting untuk membedakan antara autisme dengan yang lainnya sehingga diagnosa yang akurat dan penanganan sedini mungkin dapat dilakukan untuk menentukan terapi yang tepat.
Seperti apakah anak yang terkena autisme?
Sejak lahir sampai dengan umur 24 - 30 bulan anak anak yang terkena autisme umumnya terlihat normal. Setelah itu orang tua mulai melihat perubahan seperti keterlambatan berbicara, bermain dan berteman (bersosialisasi). Autisme adalah kombinasi dari beberapa kelainan perkembangan otak. Kemampuan dan perilaku dibawah ini adalah beberapa kelainan yang disebabkan oleh autisme.
Komunikasi:
Kemampuan berbahasa mengalami keterlambatan atau sama sekali tidak dapat berbicara. Menggunakan kata kata tanpa menghubungkannya dengan arti yang lazim digunakan. Berkomunikasi dengan menggunakan bahasa tubuh dan hanya dapat berkomunikasi dalam waktu singkat.
Bersosialisasi (berteman)
Lebih banyak menghabiskan waktunya sendiri daripada dengan orang lain. Tidak tertarik untuk berteman. Tidak bereaksi terhadap isyarat isyarat dalam bersosialisasi atau berteman seperti misalnya tidak menatap mata lawan bicaranya atau tersenyum.
Kelainan penginderaan
Sensitif terhadap cahaya, pendengaran, sentuhan, penciuman dan rasa (lidah) dari mulai ringan sampai berat.
Bermain
Tidak spontan / reflek dan tidak dapat berimajinasi dalam bermain. Tidak dapat meniru tindakan temannya dan tidak dapat memulai permainan yang bersifat pura pura.
Perilaku
Dapat menjadi sangat hiperaktif atau sangat pasif (pendiam). Marah tanpa alasan yang masuk akal. Amat sangat menaruh perhatian pada satu benda, ide, aktifitas ataupun orang. Tidak dapat menunjukkan akal sehatnya. Dapat sangat agresif ke orang lain atau dirinya sendiri. Seringkali sulit mengubah rutinitas sehari hari. kembali keatas
Mitos mengenai Autisme
Mitos-1 : Anak dengan kelainan autisme tidak pernah memandang mata lawan bicara-nya.
Banyak anak penyandang autisme ternyata dapat melakukan kontak mata tapi kontak mata tersebut mungkin dilakukan dalam jangka waktu yang lebih singkat dan sedikit berbeda dengan anak anak yang normal. Banyak diantaranya dapat bertatap muka, tersenyum dan meng-ekspresikan komunikasi non-verbal (bahasa tubuh) dengan baik.
Mitos-2 : Anak dengan kelainan autisme adalah anak jenius
Mitos yang menyatakan didalam anak penyandang autis tersembunyi kemampuan jenius mungkin dapat terjadi karena berbedanya kemampuan yang di-tunjukkan oleh anak penyandang autisme. Mereka dapat menunjukkan kemampuan fisik yang baik tetapi tidak dapat berbicara. Seorang anak autis dapat mengingat tanggal ulang tahun dari semua teman sekelasnya akan tetapi mengalami kesulitan kapan harus menggunakan kata ‘kamu’ atau ’saya’. Anak autis dapat membaca dengan artikulasi yang baik tetapi tidak dapat mengerti apa yang baru mereka baca. Anak autis dapat mempunyai IQ yang sangat tinggi. Sebagian besar anak autis menunjukkan keterlambatan dalam beberapa hal yang menggunakan ataupun memerlukan proses mental. Persentasi anak autis yang mempunyai intelegensi diatas normal ataupun dibawah normal adalah sangat kecil.
Mitos-3 : Anak dengan kelainan autisme tidak berbicara
Banyak anak penyandang autis dapat mempunyai kemampuan berbahasa dengan baik. Sebagian besar dari mereka dapat berkomunikasi dengan menggunakan simbol, gambar, komputer ataupun peralatan elektronik.
Mitos-4 : Anak dengan kelainan autisme tidak dapat menunjukkan kasih sayang
Barangkali mitos yang paling berlebihan adalah menganggap anak penyandang autisme tidak dapat menerima ataupun memberikan kasih sayang. Kita mengetahui bahwa stimulasi sensor anak autis diproses dengan cara yang berbeda dengan anak normal sehingga mengakibatkan anak autis mengalami kesulitan dalam meng-ekspresikan kasih sayang dengan cara yang lazim dilakukan oleh anak normal. Anak autis dapat memberikan dan menerima kasih sayang dengan cara mereka sendiri, kadangkala anggota keluarga ataupun teman mereka harus sabar menunggu dan belajar untuk dapat mengerti dan menghargai kemampuan anak autis yang terbatas dalam berhubungan dengan orang lain.
Mitos - mitos lainnya :
  • Autisme adalah akibat salah asuhan orang tua
  • Anak autis adalah anak yang tidak disiplin dan tidak dapat diatur dan ini hanyalah kelainan perilaku.
  • Kebanyakan orang autis berpendidikan dan ahli terkemuka dalam bidang ilmu pengetahuan dan bidang lainnya seperti digambarkan dengan sangat bagus dalam film ‘Rain Man’ yang diperankan oleh Dustin Hoffman.
  • Anak autis adalah anak anak tanpa perasaan dan emosi
  • Anak autis tidak menyukai daya tarik fisik
  • Anak autis tidak tersenyum
  • Anak Autis tidak menginginkan teman
  • Anak autis dapat berbicara jika mereka mau
  • Autisme adalah ketidak mampuan emosional
http://novi4lifetransferfactor.blogdetik.com/tag/terapi-anak-autis/?l991101blog

Merangsang Tumbuh-Kembang


Bayi yang tidak terstimulasi
akan menarik diri dan
gagal berinteraksi dengan
orang lain.


 
Di usianya yang hampir dua tahun,
Andra amat terampil
mencoret-coret tembok rumah
neneknya dengan spidol.
Ia sudah hampir bisa menggambar
kupu-kupu atau bebek, meski bentuknya
tidak keruan. Anak batita ini
sering juga bermain peran, seperti
bermimik sedih atau pura-pura berekspresi
lucu saat digoda ayahnya.
Namun kegirangan Andra kadang
berubah jadi ketakutan, tatkala sang
ayah berperan sebagai raksasa atau
sesuatu yang tidak disukainya.“Atut
(takut),”kata Andra.
Perilaku aktif sang ayah ini sebenarnya
sudah membantu perkembangan
koneksi otak si kecil. Sebab,
si buah hati memerlukan lingkungan
yang menarik untuk dijelajahi, dan
dipenuhi orang yang memberi tanggapan
terhadap kebutuhan emosi
dan intelektualnya. Si buah hati butuh
orang yang mau bernyanyi, memeluk,
berbicara, menggendong, dan
membacakan cerita untuknya.
Ya, apa pun bentuk permainannya,
seperti dikatakan dr Su Laurent,
dokter spesialis anak (pediatri) Rumah
Sakit Barnet, London, Inggris,
dalam buku Ensiklopedia Perkembangan
Bayi, kegiatan ini amat penting
bagi perkembangan bayi. Dengan
bermain, anak mengenali dunia
sekitarnya,mengembangkan kemampuan
motorik, dan belajar berkomunikasi.
Bermain dengan si buah hati sejak
awal, kata Laurent, juga merupakan
cara terbaik membentuk ikatan batin.“
Bermain dengan si kecil penting
untuk membuat anak merasa aman
dan dicintai,”ujarnya.
Psikolog Anna Surti Ariani, Psi,
mengatakan, peran penting orang tua
adalah membimbing dan menuntun
anak dalam proses tumbuh-kembangnya.
Untuk itu, dia mendorong
orang tua memfasilitasi anak bermain
dengan beragam permainan.“Bisa
dimulai dengan menyelami bagaimana
sifat tumbuh-kembang anak dari
usia nol hingga si anak besar,” ujar
Anna seusai seminar bertajuk “Mengoptimalkan
Periode Emas Perkembangan
Anak dengan Parenting Encyclopedia”
di Jakarta beberapa waktu
lalu.
Misalnya, dengan memahami bahwa
pada usia tiga bulan si mungil sudah
dapat memfokuskan mata pada
jarak yang lebih jauh, di mana ia
akan selalu mencoba meraih benda
yang ada di hadapannya.
Menurut Laurent,pada usia tiga bulan,
sangat tepat untuk orang tua
membelikan mainan. Lalu pada bulan
keempat, si kecil masih belajar mengukur
jauhnya jarak sebuah benda.
Orang tua akan melihat dia bakal menatap
tangannya dulu, baru kemudian
mainannya.Baru pada usia lima bulan,
ia akan meraih serta menggenggam
barang dengan ketepatan dan kemudahan
yang jauh lebih tinggi.
Seterusnya, ia akan mengeksplorasi
sebanyak mungkin mainan dan
memasukkan semua benda ke dalam
mulut. Si kecil juga akan menyelidiki
segala hal. Ia akan tertarik pada benda-
benda harian, seperti sendok,
kunci, dan telepon. Ia juga sangat senang
membantu ayahnya. Jadi, menurut
Laurent, biarkanlah si kecil
mengeluarkan sayuran dari keranjang
belanjaan atau memasukkan kotak
sereal ke dalam lemari.
Selain itu, si buah hati berumur di
bawah dua tahun akan menikmati
berbagai bunyi. Ia akan girang bila
pada waktu tengkurap dibaringkan
di sebuah alas bermain dengan desain
khusus. Alas ini memiliki area
yang bergemeretak, bergemerincing,
dan menguik jika disentuh atau dilewati
si kecil ketika berguling. Orang
tua bisa membuatnya dari kaleng kecil
berisi beras atau gumpalan kertas.
Selain itu, lakukan tepuk tangan
mengikuti irama. Atau cobalah memainkan
lagu lewat kotak musik
yang ada di dekat tempat tidurnya.
Para bayi juga amat suka bouncer
(mainan seperti ayunan yang bisa dilambung-
lambungkan), yang digantung
di atas kusen pintu atau langitlangit.
Waktu selama 10 menit barangkali
sudah cukup bagi si buah
hati untuk bermain bouncer ini. Lalu
ajaklah si kecil memainkan permainan
yang disukai bayi di seluruh dunia,
yaitu cilukba.
Menurut Laurent, dalam bukunya
itu, ada berbagai versi cilukba di
hampir semua budaya. Permainan ini
mengajari si kecil, yang belum mengerti
bahwa benda terus ada walau
tak terlihat. Ini disebut sifat permanen
suatu benda. Nah, permainan cilukba
yang ringan ini akan mengajarkannya
konsep tersebut. “Malah
cilukba mungkin akan menjadi permainan
favoritnya selama berbulanbulan,”
tulis Laurent.
Jika sedikit sudah besar, katakanlah
3-5 tahun, Anna menunjuk permainan
tradisional sebagai pilihan
untuk anak. Permainan lokal, misalnya
petak jongkok, akan melatih kecerdasan
fisik. Sebab, di permainan
itu dituntut koordinasi motorik kotor
dan halus. Dalam permainan ini,
anak juga akan cerdas secara strategi,
karena harus mengatur kapan dia
jongkok dan kapan berdiri. “Permainan
tradisional ini membuat anak
senang. Ini membentuk emosi anak
menjadi positif, dan jadi stimulasi
untuk kecerdasan emosinya,”ujarnya.
Permainan ini juga menstimulasi
kecerdasan sosial anak. Lebih dari
itu, secara tak langsung, nilai moral
dibahas dalam petak jongkok.“Kamu
benar apa enggak tadi jongkok, kamu
sebenarnya kena apa enggak,” ujarnya.
Apalagi yang namanya mengajari
anak tentang moral, bukan dari
pelajaran di sekolah yang cuma duduk
dan menulis. “Dengan si kecil
bergerak, dia malah mendapat pelajaran
yang nyata,”Anna menjelaskan.
Namun, dari semua permainan itu,
hal yang terpenting adalah menikmati
waktu bermain dengan si kecil,
agar ia terstimulasi dengan rutin.
“Buah hati yang tidak terstimulasi
kemungkinan akan menarik diri dan
gagal berinteraksi dengan orang lain.
Begitu dasar sosial ini hilang, hampir
tidak mungkin untuk membangunnya
lagi,”tulis Laurent. l HERU TRIYONO